Ocid1205's Blog

Just another WordPress.com weblog

Kota Bogor Riwayatmu Doeloe Sekarang Ultah Ke-527

Kedua ”Kepala” tersebut adalah Ir. Thomas Herman Karsten dan arsitek Friedrich Silaban. Karsten adalah sarjana teknik arsitektur lulusan Technische Hogeschool Delft, Negeri Kincir Angin Belanda. Yang satu lagi, Silaban, nama lengkapnya Friedrich Silaban Ompu ni Maya, arsitek legendaris kelahiran Bonandolok, Tapanuli Sumatera Utara. Ia bukanlah sarjana arsitektur dan tak pernah kuliah di Fakultas Teknik ITB. Namun ia pernah menjadi dosen mata kuliah Merencana dan Sejarah Arsitektur Barat Modern di ITB.

Tentang karyanya, putera Batak ini tak perlu diragukan lagi. Tengoklah Masjid Istiqlal, yakni sebuah masjid yang monomental dengan skala gigantik (raksasa-red), gedung Bank Indonesia, desain Taman Makam Pahlawan Kalibata dan Monumen Nasional (Monas) di Jakarta.

Apakah arsitek yang sebagian besar hidupnya dihabiskan di Bogor itu memiliki karya juga di Bogor? Untuk hal ini tak perlu diragukan lagi. Silaban mengawali karier sebagai Bouwkundige Tekenar Stadsgemente di Jakarta (Mei 1931 sampai tahun 1937). Kemudian mendapat tugas ke Pontianak sebagai Geniechef (1937-1939). Tak hanya itu, Silaban adalah ”Mahasuhu” untuk urusan ke PU-an di Kota Bogor. Sebab, dari tahun 1939 sampai dengan 1942, ia menjabat Opzichter-Tekenar Stadsgemeente, dilanjutkan 1942-1965 menjabat sebagai Direktur dan Kepala PU Kotamadya Bogor.

Dengan demikian, sang arsitek telah berkiprah dan mengurus pekerjaan umum di Kota Bogor sejak tahun 1931 hingga 1965. Artinya, selama 34 tahun ia bekerja di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Kotamadya Bogor. Karsten dan Silaban telah menyumbangkan fikiran dan karyanya bagi perkembangan Kota Bogor berupa penataan ruang kota yang bernuansa taman dengan bangunan-bangunan yang bercirikan modern tropis.

Secara kebetulan kedua arsitek tersebut adalah penganut konsep ”Organic Architecture” dan ”Modern Architecture”. Adalah mazhab dalam dunia arsitektur yang dipelopori oleh arsitek-arsitek Fank Lloyd Wright, Le Corbusier, Ludwig Mies van der Rohe dan Walter Gropius.

Melalui tangan Karsten yang cintanya kepada Indonesia terlihat pada karyanya yang senantiasa berusaha adaptif dengan lingkungan, iklim dan budaya kita. Sedangkan dalam hal menata kota, ia betul – betul seorang ”artis” sehingga penataannya menjadi sebuah kota yang benar-benar artistik. Hingga kini karya Karsten masih tampak jejak-jejaknya di beberapa kawasan pemukiman di Kota Bogor seperti di sekitar Sempur dan Babakan, kawasan taman Riau (Jl Bangka dan Belitung di Kelurahan Baranangsiang) serta Kota Paris (di Kelurahan Kebon Kelapa). Sebuah lingkungan kota taman yang teramat cantik dimana arah pandang ke arah Gunung Salak senantiasa dihadirkan. Mohon perhatian bahwa kawasan-kawasan itu dirancang sekitar tahun 1920 menjelang perluasan wilayah Kota Buitenzorg tahun 1924. Menurut keputusan Gubernur Jenderal Van Nederland Indie Nomor 289 itu, luas Buitenzorg menjadi 2.156 hektar, setelah penambahan desa Bantarjati dan Desa Tegal Lega seluas 951 hektar.

Karya arsitektur Silaban sangat beraneka ragam, dari rumah tinggalnya yang asri dan tak berpagar di jalan Gedong Sawah, bangunan SD Panaragan, gedung Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) di Jalan Cibalagung, Gedung BPN di jalan A.Yani, rumah dinas Walikota sampai Gedung Herbarium Bogoriense dan gedung Kamuning Gading.

Sumbangan yang paling berharga bagi penataan kota Bogor, Silabanlah adalah arsitek yang sangat konsisten dengan konsep penataan letak bangunan. Karya yang dirancangnya tak pernah menyalahi aturan tata kota. Bagi Silaban bangunan bukan semata-mata benda mati namun ia merupakan unsur estetika kota. Bangunan itu berbicara, karena memiliki ruh. Bangunan itu adalah sumber kesejukan dan keteduhan lingkungan sebuah kota.

Menurut Silaban, arsitektur Indonesia yang sesuai dengan bumi Indonesia adalah arsitektur dengan bangunan yang memakai topi atau payung. Konsep ini diterjemahkan dalam bentuk ”cantilever” yang lebar, ”sunscreen” yang melindungi jendela atau selasar yang mengitari eksterior bangunan. Seandainya sebagian besar gedung-gedung di Kota Bogor mengikuti Silaban dapat dipastikan suhu Kota Bogor tak sepanas sekarang ini.

Kini, adakah arsitek dan planolog (ahli tata kota) yang peduli terhadap lingkungan yang telah dijejali atribut-atribut ”sampah kota,” seperti supermall hypermarket, trademall, plaza, dan square. Adakah arsitek dan planolog yang mampu menata kawasan Jembatan Merah ? yang apabila menjelang sore hari PKL menguasai setengah badan jalan. Drainase yang sering mampet, sehingga jalan Dewi Sartika dan jalan Nyi Raja Permas menjadi kali-kali kecil ketika hujan lebat, padahal hanya beberapa puluh meter dari lokasi itu terletak sungai Cipakancilan.

Adakah arsitek dan planolog di Kota Bogor yang mampu menyelaraskan nuansa keasrian Kebun Raya Bogor dengan lingkungan sekitarnya ? yang kini penuh sampah pasar, kesemrawutan lalulintas dan kerakusan PKL yang merambah ruang publik membuat hak pejalan kaki terabaikan. Padahal lebih dari seabad lalu, ketika Prof. Dr. Melchior Treub (1880-1905) Direktur mampu menciptakan Buitenzorg sebagai sebuah Kota yang ”Beriman” dan bukan sekedar slogan belaka…………”engga percaya tanya saja pada rumput yang bergoyang”.

Penulis : Rachmat Iskandar
Redaktur Khusus Bogor News

Istana Bogor

Istana Bogor

Juni 3, 2009 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: